Monday, February 20, 2012

Amanat Hasan Tiro Hana Peunawa Bak Musoh

Muksalmina [Mantan Juru Bicara KPA Pusat] | Minggu, 19 Februari 2012
Pemecatan yang dilakukan terhadap beberapa Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) wilayah oleh pimpinan KPA adalah imbas penolakan KPA Wilayah terhadap pencalonan pimpinan GAM sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur dalam pilkada Aceh 2012.

Dalam rapat khusus pimpinan KPA bersama pimpinan GAM dengan agenda pembahasan cagub yang akan diusung oleh PA di Mess Mentroe pada Februari 2011, pimpinan GAM Malik Mahmud langsung menunjuk calon gubernur dan wakil gubernur yaitu dr. Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf tanpa memberi ruang kepada KPA Wilayah untuk berdiskusi terhadap agenda yang akan dibahas.

Saat itu, KPA wilayah bersikeras memberi masukan dan mempertanyakan kenapa kedua pimpinan GAM diputuskan menjadi calon gubernur yang merupakan wakil pemerintah Republik Indonesia di Aceh. Diantara wilayah itu adalah, Batee Iliek yang dipimpin oleh Alm. Saiful alias Cagee. Saiful kemudian ditembak. Selain itu wilayah Aceh Reyeuk yang dihadiri Muharram, Sabang Izil Azhar, Aceh Jaya Syarbaini dan Tapak Tuan yang diwakili oleh Kartiwi Dawood.

Tujuan mantan pimpinan KPA Wilayah itu untuk mengingatkan pimpinan GAM Malik Mahmud terhadap keputusan itu, karena kedua pimpinan yang dicalonkan yaitu Dr. Zaini Abdullah yang bertugas sebagai menteri luar negeri GAM dan Muzakkir Manaf sebagai ketua KPA pusat, yang mana mereka berdua sebagai simbol perjuangan GAM dan pimpinan tertinggi dari GAM yang sangat tidak layak dicalonkan sebagai gubernur dan wakil gubernur.

Dalam pandangan ketua KPA dan GAM di wilayah, yang dimaksud dengan citra perjuangan yaitu menyelamatkan pimpinan dan misi perjuangan yang belum selesai, bukan pimpinan menjadi calon gub dan wagub. Sebagai bukti, butir-butir MoU Helsinki masih banyak yang belum terakomodir dalam UUPA.

Pimpinan GAM seharusnya tetap berada dalam posisi setara dengan pemerintah indonesia, bukan malah menjadi wakil dari pemerintah indonesia di Aceh. Hal ini penting agar para pihak tetap dapat berunding untuk memperbaiki implementasi MoU Helsinki yang termasuk dalam kategori dispute (yang belum diamandemen/revisi oleh pemerintah RI kedalam UUPA).

Ketika masukan daripada wilayah tidak diakomodir oleh pimpinan, kami merasa sangat kecewa, karena disaat perang kami selalu berprinsip, suksesnya diplomasi politik pimpinan GAM di swedia adalah karena adanya GAM dan TNA di hutan. Bertahannya TNA dan GAM di hutan, karena adanya bantuan dari masyarakat. Jika ketiga sistem itu tidak berjalan, mungkin perdamaian tidak akan lahir seperti yang kita rasakan saat ini.

Kami yang bergerilya di hutan sudah terbukti sanggup mempertahankan perjuangan. Milad yang sudah dilakukan sampai seterusnya merupakan bukti bahwa GAM dan TNA tidak kalah dalam berperang. Kalau kalah dalam berperang, sudah pasti GAM dan TNA tidak dapat melaksanakan milad tersebut.

Disaat perang, segala kebutuhan logistik seperti tidak adanya senjata, kami membeli sendiri, tidak adanya peluru kami membeli sendiri, tidak adanya beras kami membeli sendiri. Syahidnya militer TNA dan sipil GAM, kami pun menguburkannya sendiri.

Segalanya menjadi tanggungan kami sendiri tanpa bantuan dari pimpinan GAM. Yang kami kecewakan, kenapa tidak sedikitpun sikap murah hatinya dari pimpinan GAM untuk menghargai segala yang telah kami lakukan. Maksud daripada keinginan kami untuk dihargai adalah mengapa tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan politik praktis yaitu untuk mencalonkan gub dan wagub. Keputusan itu diambil tanpa musawarah.

Yang kami tahu, dalam sumpah (bai’at), tidak pernah tersebut GAM akan membuat partai, mencalonkan diri untuk menjadi anggota legislatif dan eksekutif baik di provinsi maupun kab/kota. Karena tidak ada dalam bai’at tersebutlah kami merasa hal itu harus diputuskan dalam musyawarah bersama yang melibatkan semua wilayah.

Semua pihak GAM dan TNA tau jelas ketika mereka dituntut untuk perduli terhadap penderitaan rakyat saat itu, hingga mereka menjadi gerilyawan, tidak ada satupun tempat pendaftaran diterimanya GAM dan TNA. Sangatlah Aneh ketika perdamaian, lahir kategori pemecatan. Tapi kami tidak merisaukan terhadap bahasa pemecatan atau pengkhianat, karena yang kami lakukan saat perang bukanlah untuk pimpinan tetapi untuk rakyat Aceh.

Kami tetap berkeyakinan masyarakat membantu kami saat perang karena kami memperjuangkan aspirasi rakyat. Sejauh kami masih memikirkan aspirasi rakyat, kami akan dihargai oleh rakyat. Ketika kami tidak lagi memikirkan rakyat, dengan sendirinya rakyat akan melupakan kami. Dalam artian yang kami takutkan adalah ketika kami dipecat oleh rakyat.

Kami yang dipecat selalu ingat amanat Yang Mulia Wali Negara Tgk. Sjiek Di Tiro Hasan bin Muhammad, Hana peunawa bak musoh.

kamoe cok bak web : theglobejournal.com

Sunday, February 12, 2012

Peutuah

Bek lalo lee hai anaek nanggroe..ingat Keupoe karap akhe masa..donya hanya siat di akhirat yang keukal seujahtera..

Wednesday, November 9, 2011

Genealogy of the King of Aceh

silsilah raja raja kerajaan Aceh Darussalam



Nyoe na sisilah raja Nanggroe seumoga beumamfaat bagi droe neuh mandum:
  1. sultan alaidin ali mughayat syah 916-936 H (1511 - 1530 M)
  2. sultan salahuddin 939-945 H (1530 - 1539M)
  3. sultan alaidin riayat syah II, terkenal dengan nama AL Qahhar 945 - 979 H (1539 - 1571M)
  4. sultan husain alaidin riayat syah III, 979 - 987 H (1571 - 1579 M)
  5. sultan muda bin husain syah, usia 7 bulan, menjadi raja selama 28 hari
  6. sultan mughal seri alam pariaman syah,987 H (1579M) selama 20 hari
  7. sultan zainal abidin, 987 - 988 H (1579 - 1580 M)
  8. sultan aialidin mansyur syah, 989 -995H (1581 -1587M)
  9. sultan mugyat bujang, 995 - 997 H (1587 - 1589M)
  10. sultan alaidin riayat syah IV, 997 - 1011 H (1589 - 1604M)
  11. sultan muda ali riayat syah V 1011 - 1015 H (1604 - 1607M)
  12. sultan iskandar muda dharma wangsa perkasa alam syah 1016 - 1045H (1607 - 1636M)
  13. sultan mughayat syah iskandar sani,1045 - 1050 H (1636 - 1641M)
  14. sultanah sri ratu tajul alam safiatuddin johan berdaulat, 1050-1086H (1641 - 1671M)
  15. sultanah sri ratu nurul alam naqiatuddin (anak angkat safiatuddin), 1086 - 1088 H (1675-1678 M)
  16. sultanah sri ratu zakiatuddin inayat syah (putri dari naqiatuddin) 1088 - 1098 H (1678 - 1688M)
  17. sultanah sri ratu kemalat syah (anak angkat safiatuddin) 1098 - 1109 H (1688 - 1699M)
  18. sultan badrul alam syarif hasyim jamalul lail 1110 - 1113 H (1699 - 1702M)
  19. sultan perkasa alam syarif lamtoi bin syarif ibrahim. 1113 - 1115H (1702 -1703 M)
  20. sultan jamalul alam badrul munir bin syarif hasyim 1115 - 1139 H (1703 - 1726M)
  21. sultan jauharul alam imaduddin,1139H (1729M)
  22. sultan syamsul alam wandi teubeueng
  23. sultan alaidin maharaja lila ahmad syah 1139 - 1147H (1727 - 1735H)
  24. sultan alaidin johan syah 1147 - 1174 (1735-1760M)
  25. sultan alaidin mahmud syah 1174 -1195 H (1760 - 1781M)
  26. sultan alaidin muhammad syah 1195 -1209 H (1781 - 1795M)
  27. sultan husain alaidin jauharul alamsyah,1209 -1238 H (1795-1823M)
  28. sultan alaidin muhammad daud syah 1238 - 1251 H (1823 - 1836M)
  29. sultan sulaiman ali alaidin iskandar syah 1251-1286 H (1836 - 1870 M)
  30. sultan alaidin mahmud syah 1286 - 1290 H (1870 - 1874M)
  31. sultan alaidin muhammad daud syah, 1290 -.....H (1884 -1903 M)

sultan alaiddin muhammad daud syah nyankeuh sultan yang paleng akhe dari kerajaan
aceh darussalam, Gopnyan geumejuang  prang dalam uteun (
guerrilla warfare)  seulama 29 thon dan gopnyan rela mate dalam peujuang Aceh dari Penjajahan Belanda

Bak thon 1903 gopnya diteumee drop lee Belanda dan di beuh (
in exile) u ambon,
maluku dan akhe jih di pinah u jawa. Gopnya mangkat di Jakarta bak thon 1939.

nyoe keuh silsilah Raja  Aceh peuree lee lebeh trang jeut neubaca bak buku  tawarikh raja- raja kerajaan aceh. oleh Tgk M Yunus Jamil.
Teurimeung Geunaseh

Mita Peng